December 25, 2009
The growth of China as a world economic power makes a lot of people interested in learning Mandarin. Interest in teaching Mandarin among young people is also growing in the UK.
The British government rate, every teenager should have English already had the opportunity to learn Mandarin. It was concerned with the growing importance of China in world economic power.
Currently, one in seven secondary schools in England, which teaches students aged 11-16 years, offering Mandarin lessons. In fact, School Secretary Ed Balls said the strengthening of Mandarin education will be made by partnering with other schools.
"In this decade of cooperation with the countries that started strong economy, as China becomes more important. Therefore, people must be equipped with the necessary skills, and the British business world it needed the cooperation of China deng in order to succeed in a rapidly changing world, "Ed said.
Therefore, students in secondary education can choose Mandarin, either at school or in their neighborhood school or in college.
Based on the published polls CBI business lobby group in the UK last year, the company liked the staff who have the ability to speak Mandarin. Mentioned, as many as 38 percent of companies looking for workers who can speak Mandarin or Cantonese, as much as 52 percent of the French language, and 43 percent German.
Based on test results in English GCSEs last year, tests must be followed 16-year-old student, as many as 3469 participants taking Mandarin. That number increased 16 percent from the previous year. The number is expected to continue to increase in coming years.
December 25, 2009 by adytia · 0
December 23, 2009
The increase in paras sea level due to global warming, soil degradation, and other effects limited millimeters per year is still often underestimated, so the damage to be ignored too. In fact, the impact of widespread damage, reaching a height of 50 times, 200 times increase in sea level that paras. "Power paras damaged by sea level rise rather than vertical, but horizontal. We are not impressed though sea level rise estimates in various parts of Indonesia is only 3-5 millimeters per year, "said Head of Gravity Field and tides on Coordination Agency National Survey and Mapping Parluhutan Manurung. Parluhutan said, the damage reached the coast 50 times, 200 times the sea level rise based on the theory Brun. If the predicted sea-level enaikan k 3 millimeters per year, the risk of damage to coastal areas at a height of 150 millimeters, 600 millimeters (0.15 feet-0, 6 meters).
"The increase in sea level paras 3 millimeters per year is very small. However, in a year could be up to the destruction of coastal areas with an altitude of 0.6 meters. This risk is still not accounted for, "said Parluhutan.
Such destructive force, according to him, due to gerusan higher waves and cause abrasion. Actually, the damage can be calculated to determine measures of adaptation and mitigation.
Destructive force is also affected coastal conditions. The beach is still protected by a good mangrove zone smaller risk. "The effect Brun's theory is the concern of small island nations," said Parluhutan.
December 23, 2009 by adytia · 0
December 16, 2009
"The yogi who came from India, Europe, United States, and countries in Asia will provide a solution, what should be done facing humanity is global warming," said Chairman of Bali-India Foundation Dr. Somvir in Denpasar,
The yogis also with how each will perform a maximum effort so that global warming is not fatal. Bali-India International Yoga Festival will be held in the Island of the Gods, 3-10 March 2010, involving about 1,500 yogis from abroad. International activities of this second time, one of whom discussions of yogis and scholars to find solutions against global warming.
These activities to be held in Banjar Gunung Sari, Desa Tegal Linggah, Sukasada District, Buleleng District, Bali north, 80 km north of Denpasar. The human race has been to respect mother earth (ground). For that obligation and the responsibility to preserve the environment, greening movement and avoid the construction of storey buildings. Every inch of land should be planted that could provide benefits to human life or save the world and its contents.
December 16, 2009 by adytia · 0
December 10, 2009
Perubahan iklim merupakan situasi yang saat ini kita hadapi dan tidak dapat ditawar lagi kecuali dengan meredam lajunya. Adalah dengan memahami proses- proses yang terjadi di alam, wawasan kita dapat dibuka tentang bagaimana dan mengapa iklim itu berubah.
Dari situ kita akan sadar bahwa secara alamiah iklim itu memang akan berubah walau tanpa campur tangan manusia. Dan, dengan adanya aktivitas manusia, berawal dari revolusi industri hingga kini, iklim berubah dengan drastis.
Mungkin semua orang tahu bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di udara yang menyebabkan temperatur di permukaan bumi meningkat.
Hampir semua negara di dunia berusaha untuk menurunkan emisi GRK-nya masing-masing walau dengan perdebatan yang cukup alot mengenai besaran yang harus diturunkan. Dan, menurut hemat saya, hal tersebut cukup sulit karena banyak faktor yang harus dipantau dan dievaluasi, serta yang jelas harus ilmiah.
Kita mungkin paham bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO) sehingga kita berusaha untuk menjaga hutan agar tetap
Namun, belum banyak yang paham bahwa perairan kita yang sangat luas itu juga memiliki potensi dalam mengatur kesetimbangan CO di atmosfer. Potensinya adalah dapat sebagai penyimpan dan atau penyumbang CO. Tetapi, kita belum tahu persis potensi yang mana yang kita miliki.
Di sini saya sedikit mengulas bagaimana ekosistem perairan selain lautan, yaitu danau dan waduk, dan apa kaitannya dengan emisi GRK. Indonesia memiliki 521 danau alami, terbanyak di Asia Tenggara, dan lebih dari 100 waduk.
Danau dan waduk adalah ekosistem yang menerima input materi dari ekosistem daratan, termasuk di dalamnya karbon. Apabila materi tersebut adalah makhluk hidup atau sisa dari makhluk hidup, suatu saat materi tersebut akan terdegradasi menghasilkan inorganik karbon yang salah satunya adalah CO.
Memang benar, material organik tadi dapat terbenam di dasar danau, tetapi hampir semua danau yang ada di Indonesia dapat mengalami pengadukan sempurna sehingga CO dan material lainnya di dasar itu mampu kembali ke permukaan. Adanya aktivitas fotosintesis-respirasi memengaruhi CO di permukaan, tetapi tidak cukup signifikan karena keduanya berada cukup seimbang.
Lebih lanjut jika konsentrasi CO di lapisan permukaan air sangat tinggi dan jenuh, CO akan terlepas ke udara.
Secara global Cole dkk. (1994) menghitung bahwa sekitar 87 persen dari 4.665 danau—termasuk waduk—yang ada di dunia (sekitar 2 x 106 kilometer persegi) berpotensi menyumbang CO ke atmosfer dengan total kisaran 0,14 x 1.015 gram karbon per tahunnya. Sayangnya mereka tidak merekam danau-danau di Indonesia yang sedemikian banyaknya (± 3 persen luas total daratan) dengan masing-masing karakternya.
Hasil kalkulasi saya, berdasarkan data dari Lehmusloto dkk (1997), yang pernah meneliti sangat banyak danau di Indonesia, danau-danau di Indonesia memiliki tekanan parsial CO (pCO) sebesar 194,79 µatm-947,49 µatm dan waduk sebesar 102,19 µatm-843,38 µatm. Artinya, danau dan waduk di Indonesia memiliki potensi yang sama dalam mengikat dan melepaskan CO ke udara.
Namun, kisaran pCO danau dan waduk di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan danau di belahan bumi lainnya. Danau-danau di Afrika memiliki pCO hingga 59.900 µatm, hampir 60 kali lipat danau-danau di Indonesia.
Danau dan waduk hanyalah salah satu bagian dari siklus karbon yang mungkin terlewatkan dalam pemikiran kita untuk menurunkan GRK. Wajib dipahami bahwa untuk menurunkan emisi GRK kita haruslah menelaah semua segi kehidupan, termasuk perilaku kehidupan sehari-hari karena manusia merupakan pemeran utama dalam beberapa siklus yang ada di muka bumi.
Sumbangsih danau pada emisi GRK di udara bertolak secara alamiah. Namun, pengelolaan danau yang salah arah dapat menyebabkan danau itu berperan sebagai penghasil GRK yang sangat potensial. Cukup banyak danau dan waduk di Indonesia yang mengalami tekanan lingkungan sehingga memiliki potensi melepas GRK dalam jumlah yang besar.
Material organik, seperti sisa aktivitas pertanian, pakan ikan, lumpur, dan pencemar lainnya sangat berpotensi untuk terdegradasi menjadi GRK. Memang, perlu ada penelitian lebih lanjut dan detail pada ekosistem ini agar peran masing-masing dapat lebih dipahami.
Namun, peran serta seluruh pihak, baik dari masyarakat, pemerhati maupun pemerintah sangatlah dibutuhkan dalam menyikapi isu perubahan iklim ini. Dan, menurut hemat saya, danau dan waduk adalah cermin keberhasilan usaha kita semua dalam memperbaiki kualitas lingkungan yang bermanfaat untuk menurunkan emisi GRK.
December 10, 2009 by adytia · 0

